Langsung ke konten utama

Postingan

Postingan Terbaru

Ku kira marahnya akan ditakuti oleh dia, kusangka diamnya akan direnungkan oleh dia. Namun marah dan diamnya dibalas dengan luka. Kata dusta dan bohong, caci serta maki dia terima selama ini hanya untuk membuatnya bahagia, namun pengkhianatan terpampang jelas dia lakukan kepadanya. Sungguhlah deritamu tiada tara nak, kau jadikan dia segalanya, kau berikan dia segalanya, sebaliknya kau bukanlah apa-apa baginya.

Seorang bocah kecil berjalan sendiri dipertengahan malam, gelap kala itu tak menjadikan takut di dirinya, ia tetap berjalan lurus tanpa memandang sedikitpun disekitarnya. Ia berjalan di jalanan yang begitu buruk, bebatuan dan duri semak yang ia injak dan lalui. Langkah demi langkah ia ayun dengan kuatnya, tanpa terlihat rasa sakit terpancar di wajahnya. Pepatah tua itu benar adanya, entah sekaran, nanti ataupun lusa, memang malang datang sekejap mata. Bocah kecil itu terjatuh, jatuh di bebatuan keras yang dilaluinya, jatuh dihamparan duri semak yang diinjaknya. Ingin ku kesana untuk menolongnya, tapi entah mengapa kakiku tak mampu ku gerakkan, hingga ku hanya bisa berharap dia bisa berdiri lagi. Tapi, dia tak berdiri, mengapa ia tak berdiri?. Mengapa dia hanya duduk?. Lutut dan telapak kakinya terluka, itulah alasan dia tak berdiri. Tapi, sungguh hal yang ku lihat tak pernah terlintas dibenakku, ia tak beridir dan berjalan, tapi dia merangkak, ya! ia merangkak melanjutkan perjalanannya. Dan mengapa dia? Dengan lukanya dia merangkak tanpa terlihat rasa sakit sedikitpun. Ia terus merangkak dibebatuan, duri dan gelapnya malam, lagi-lagi sungguh malang tak pandang apapun dia, siapapun orangnya. Ia terjatuh lagi, kembali diatas bebatuan dan duri jalanan itu. Kali ini sikut, lutut, lengan, paha dan telapak kakinya terluka. Ya! Ia tak mampu lagi berdiri, ia tak berdiri!. Bocah kecil itu merayap dengan semua lukanya, merayao melanjutkan perjalanannya. Tuhan mengapa dia? Mengapa dia merangkak Tuhan? Mengapa dia merayap Tuhan? Mengapa tiada terlihat rasa sakit? Mengapa tiada air matanya keluar?. Semua luka, badan yang tercabik tergores jalanan itu, tak menghentikan jalannya, dia terus saja melaju kedepan tanpa henti. Mengapa Tuhan? Seorang bocah kecil berjalan, merangkak dan merayap di jalanan gelap, berbatu dan berduri tanpa rasa sakit, tanpa air mata, tanpa teriakan, tanpa apapun. Semua yang ku lihat membuatku diam tak berdaya, layaknya paku yang tertancap di tembok, ibarat sibisu sedang bermimpi. Aku hanya diam!. Dalam diamku seorang bocah kecil datang menyapaku, ia berkata "Hei bocah kecil, mengapa kau tak berdiri? mengapa kau tak menagis? mengapa kau tak terlihat kesakitan? mengapa Tuhan?".

Tiada hati ini ingin menangis, kala seorang bocah kecil termenung dihadapanku. Entah siapa dia dan dari mana asalnya, dia terdiam disudut tembok sebuah bangunan, tanpa pakaian sehelaipun. Tiada hati ingin menangis, kala seorang bocah kecil menatap tajam kearahku, dia tersenyum namun berlinang air mata. Entah siapa dia dan dari mana asalnya. Tiada hati ini ingin menangis, kala seorang bocah kecil datang menyapaku, tanpa pakaian, dengan senyuman dan linangan air matanya. Ia menyapa "Hei bocah kecil, siapa dan dari mana asalmu?".